

Muba Sumael SibaNews.com-, Kasus kebakaran penyulingan minyak ilegal di Kecamatan Keluang kini bukan sekadar insiden, melainkan telah menjelma menjadi simbol rapuhnya penegakan hukum. Publik dibuat bertanya: apakah hukum masih berdiri tegak, atau justru tunduk pada kepentingan tertentu.
Peristiwa kebakaran hebat pada 14 Maret 2026 di Desa Mekar Sari yang diduga kuat berkaitan dengan aktivitas illegal refinery milik sosok berinisial YN, hingga hari ini masih gelap tanpa kejelasan. Tidak ada tersangka. Tidak ada transparansi. Yang ada hanya diam dan diam dalam kasus seperti ini adalah tanda tanya paling berbahaya.
LSM POSE RI secara lantang menyebut kondisi ini sebagai kegagalan serius aparat penegak hukum, khususnya Unit Pidsus Polres Muba dan jajaran terkait.
Ketua Umumnya, Desri Nago SH, menilai lambannya penanganan bukan lagi sekadar kelalaian, tetapi mengarah pada dugaan kuat adanya “perlindungan halus” terhadap pelaku.
“Kalau sudah terang benderang lokasi dan dugaan pemiliknya, tapi tak kunjung ada tersangka, maka publik berhak curiga—ada apa di balik ini semua?” tegas Desri dengan nada keras.
Ia menilai, sikap pasif aparat justru mempermalukan institusi sendiri di hadapan masyarakat. Lebih dari itu, kondisi ini memberi sinyal berbahaya bahwa praktik ilegal bisa berjalan tanpa konsekuensi, selama ada ‘payung’ yang melindungi.
“Ini bukan sekadar kasus kebakaran. Ini soal wibawa hukum yang sedang dipertaruhkan. Jika dibiarkan, maka pesan yang sampai ke masyarakat jelas: pelaku bisa lolos, hukum bisa dinegosiasikan,” ujarnya.
Fakta bahwa sosok YN yang diduga sebagai pemilik lokasi penyulingan masih bebas tanpa status hukum semakin mempertebal dugaan publik bahwa proses ini sengaja diperlambat.
Bahkan, POSE RI menyebut sudah ada pola berulang di mana pelaku-pelaku dalam jaringan minyak ilegal sulit disentuh.
“Jangan sampai hukum hanya berani kepada yang lemah, tapi lunglai di hadapan yang punya ‘kekuatan’. Ini akan menjadi catatan hitam bagi penegakan hukum di Musi Banyuasin,” tambahnya.
POSE RI juga menegaskan bahwa jika dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret dari aparat, gelombang protes akan kembali digelar. Mereka siap turun ke jalan, membawa suara publik yang mulai kehilangan kepercayaan.
“Ini bukan ancaman, ini peringatan. Kami akan datang dengan massa yang lebih besar. Kami menuntut kejelasan, transparansi, dan penetapan tersangka. Jangan biarkan hukum dipermainkan di negeri ini,” tutup Desri.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian terkait perkembangan kasus tersebut—dan setiap detik tanpa kejelasan hanya akan mempertebal kecurigaan publik.