Berita
30 Okt 2026, Jum

MUSI BANYUASIN, SUMATERA SELATAN Sibanews.com-,
Kesabaran masyarakat yang setiap hari melintasi jalur Sekayu–Lubuklinggau kini berada di titik kritis. Selama hampir satu tahun, para pengguna jalan harus menghadapi kondisi infrastruktur yang rusak parah, meningkatkan risiko kecelakaan, merusak kendaraan, serta menambah beban ekonomi masyarakat.

Kerusakan jalan yang tak kunjung tertangani secara menyeluruh bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan berkendara. Ini menyangkut keselamatan jiwa, kelancaran mobilitas masyarakat, distribusi barang, hingga tanggung jawab negara dalam menyediakan infrastruktur jalan yang layak dan aman.

Janji perbaikan sebelum Tahun Baru hingga menjelang Lebaran kini dipertanyakan realisasinya. Masyarakat berhak memperoleh kejelasan: kapan perbaikan benar-benar dilaksanakan, berapa panjang ruas yang akan ditangani, dan apakah pekerjaan tersebut dirancang sebagai solusi permanen atau kembali sebatas penanganan sementara?

Persoalan ini tidak semestinya terus dijawab dengan pernyataan normatif dan janji yang berulang. Masyarakat membutuhkan tindakan nyata, jadwal pekerjaan yang transparan, serta kepastian bahwa anggaran dan program penanganan jalan benar-benar menghasilkan perbaikan yang dapat dirasakan.

Jalan yang rusak parah berpotensi menimbulkan konsekuensi serius, mulai dari kerusakan kendaraan dan meningkatnya biaya transportasi hingga kecelakaan yang dapat mengancam keselamatan pengguna jalan.

Dalam konteks tersebut, instansi yang memiliki kewenangan atas ruas jalan terkait perlu segera melakukan evaluasi teknis, menetapkan prioritas penanganan, serta memastikan langkah pengamanan pada titik-titik yang membahayakan.

Penanganan tidak cukup dilakukan melalui tambal sulam apabila kerusakan struktural jalan membutuhkan rekonstruksi atau peningkatan konstruksi. Metode perbaikan harus didasarkan pada hasil pemeriksaan teknis, tingkat kerusakan, kondisi drainase, dan kemampuan jalan menanggung beban lalu lintas.

Gelombang kekecewaan masyarakat semestinya menjadi peringatan bagi pemerintah dan instansi teknis agar persoalan ini tidak terus berlarut-larut.

Masyarakat tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan jalan yang aman, layak dilalui, dan tidak terus-menerus mengorbankan waktu, biaya, serta keselamatan.

Karena itu, instansi berwenang perlu segera menyampaikan informasi terbuka mengenai status penanganan ruas Sekayu–Lubuklinggau, sumber pendanaan, tahapan pekerjaan, serta target penyelesaian yang realistis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Jika perbaikan permanen belum dapat dilaksanakan dalam waktu dekat, langkah mitigasi terhadap titik-titik berbahaya harus menjadi prioritas agar risiko kecelakaan tidak dibiarkan meningkat.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemerintah bukan terletak pada seberapa sering rencana perbaikan diumumkan, melainkan pada sejauh mana jalan benar-benar diperbaiki dan keselamatan masyarakat terlindungi.

Sampai kapan masyarakat harus menunggu.Sampai berapa banyak kendaraan rusak, kerugian ekonomi bertambah, atau kecelakaan terjadi sebelum persoalan ini mendapatkan penanganan serius.

Jalur Sekayu–Lubuklinggau merupakan akses penting bagi mobilitas masyarakat. Karena itu, penanganannya membutuhkan komitmen, transparansi, dan akuntabilitas. Masyarakat berhak menagih realisasi, sementara instansi berwenang berkewajiban menjelaskan langkah konkret sesuai tugas dan kewenangannya.

Jalan rusak tidak boleh menjadi persoalan tahunan yang diwariskan dari satu janji ke janji manis pemangku kebjakan dilontarkan terhadap masyarakat sebagi warisan berikutnya. Keselamatan masyarakat harus ditempatkan di atas kepentingan pencitraan.(Td)

Share Medsos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sorry, you can't copy this post